NAIK KELAS #02 Dari Cyber Security ke Customer Success Manager: Ketika Pelatihan Membuka Jalan Karier Baru
Kisah nyata Arjuna tentang keberanian berpindah jalur, terus belajar, dan memanfaatkan dukungan pelatihan untuk berkembang di dunia teknologi.
Apakah naik kelas dalam karier selalu berarti mendapatkan jabatan yang lebih tinggi?
Tidak selalu.
Kadang-kadang, naik kelas berarti berani berpindah jalur.
Seseorang yang awalnya bekerja di satu bidang menemukan bahwa kemampuan dan potensinya ternyata dapat berkembang lebih jauh ketika ia mencoba bidang lain.
Itulah yang terjadi dalam perjalanan karier Arjuna di IBM.
Ia bergabung dengan IBM melalui graduate scheme sebagai seorang profesional Cyber Security. Namun, perjalanan kariernya kemudian membawanya ke bidang Customer Success Management.
Perpindahan tersebut tidak terjadi dalam semalam.
Ada proses belajar, pelatihan, pengalaman, dukungan dari pemimpin, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri.
Memulai Karier dari Latar Belakang yang Berbeda
Arjuna memiliki latar belakang pendidikan Matematika dan Ekonomi di universitas.
Ketika memasuki IBM, ia memilih jalur teknologi melalui graduate scheme dan memulai sebagai profesional Cyber Security.
Bagi seseorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan teknologi secara khusus, masuk ke dunia teknologi tentu menjadi tantangan tersendiri.
Namun Arjuna memiliki sesuatu yang sangat penting:
kemauan untuk belajar.
Dalam wawancara yang dipublikasikan IBM, Arjuna menjelaskan bahwa meskipun ia tidak memiliki banyak pengalaman teknis pada awalnya, ia memiliki kemampuan logika dan algoritma serta kemampuan untuk memecah persoalan yang kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dipahami.
Kemampuan tersebut kemudian menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya.
Dunia Kerja Berubah, Begitu Juga Jalur Karier
Ketika pandemi COVID-19 terjadi, Arjuna baru sekitar dua minggu menjalani peran barunya di IBM.
Komunikasi kemudian berpindah secara online selama sekitar 18 bulan.
Situasi tersebut tentu membawa tantangan.
Namun, perjalanan kariernya tidak berhenti.
Justru dalam proses tersebut, Arjuna terus mengembangkan dirinya dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan karier.
Ia kemudian melakukan perpindahan ke bidang Customer Success Management.
Menurut IBM, Arjuna merasa siap untuk memberikan dampak nyata dalam peran tersebut karena mendapatkan dukungan dari para pemimpin IBM.
Di sinilah kisah Arjuna menjadi menarik.
Ia tidak sekadar berpindah pekerjaan.
Ia berpindah kompetensi dan memperluas cara menggunakan kemampuan yang sudah dimilikinya.
Dari Teknologi ke Customer Success
Apa sebenarnya yang dilakukan seorang Customer Success Manager?
Dalam konteks Arjuna, perannya berkaitan dengan membantu klien mendapatkan manfaat dan dampak nyata dari teknologi IBM.
Ia terlibat dalam berbagai teknologi pertumbuhan IBM, termasuk Hybrid Cloud dan teknologi yang berkaitan dengan Red Hat.
IBM mencatat bahwa salah satu pekerjaannya adalah membantu klien dalam proses transformasi menuju Open-Source Hybrid Cloud dan memahami bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan nilai bagi mereka.
Ini membutuhkan kombinasi kemampuan teknis dan kemampuan manusia.
Tidak cukup hanya memahami teknologi.
Seorang Customer Success Manager juga harus mampu:
memahami kebutuhan klien;
menjelaskan konsep yang kompleks;
membangun hubungan;
berkomunikasi dengan berbagai tipe orang;
berkolaborasi dengan tim;
memahami masalah dari sudut pandang pelanggan;
dan membantu menemukan solusi.
Arjuna membawa kemampuan tersebut ke dalam peran barunya.
Ketika Pelatihan Menjadi Bagian dari Perjalanan Karier
Salah satu bagian penting dalam kisah Arjuna adalah kesempatan untuk terus belajar.
Ia menyebutkan bahwa pendekatan kerja hybrid memberinya fleksibilitas untuk mengikuti sesi pelatihan pada pagi hari.
Bahkan setelah menjalankan peran sebagai Customer Success Manager, ia mendapatkan kesempatan mengikuti tech academy selama satu minggu di Paris.
Dalam program tersebut, ia dijadwalkan mendapatkan pembelajaran mengenai berbagai teknologi IBM, termasuk:
OpenShift;
Kubernetes;
Data Fabric;
serta teknologi IBM lainnya.
Artinya, ketika seseorang memasuki posisi baru, proses belajar tidak berhenti.
Justru ketika tanggung jawab meningkat, kebutuhan untuk belajar dapat menjadi semakin besar.
Jabatan baru membutuhkan kompetensi baru.
Dan kompetensi baru membutuhkan proses belajar.
Tidak Punya Latar Belakang Teknologi Bukan Berarti Tidak Bisa Berkembang
Ada satu bagian dari kisah Arjuna yang sangat relevan bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan perubahan karier.
Ia mengakui bahwa dirinya tidak memiliki latar belakang teknis yang kuat.
Namun ia memiliki kemampuan untuk memahami struktur yang kompleks dan menjelaskan ide dengan cara yang dapat dipahami oleh orang lain.
Kemampuan tersebut ia kembangkan melalui ketertarikannya pada teknologi seperti quantum computing.
Ia mempelajari berbagai konsep, memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, kemudian berusaha mengomunikasikan pemahamannya kepada berbagai jenis audiens.
Kemampuan tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan yang membantunya dalam Customer Success Management.
Ini memberikan pelajaran penting:
Tidak semua kompetensi harus dimulai dari nol.
Kadang seseorang sudah memiliki kompetensi tertentu, tetapi belum mengetahui di mana kompetensi tersebut paling bernilai.
Kemampuan Komunikasi Bisa Menjadi Modal Karier
Arjuna juga terlibat sebagai ambassador untuk tim Quantum.
Dalam aktivitas tersebut, ia harus menjelaskan konsep teknologi yang kompleks kepada orang dengan tingkat pemahaman teknologi yang berbeda-beda.
Bahkan ia pernah mempresentasikan ekosistem quantum kepada audiens peneliti PhD yang memiliki pengetahuan khusus di bidangnya.
Pengalaman tersebut mengasah kemampuan komunikasi dan menjelaskan sesuatu yang kompleks secara sistematis.
Kemampuan seperti ini ternyata sangat relevan dengan pekerjaannya sebagai Customer Success Manager.
Karena dalam dunia Customer Success, seorang profesional bukan hanya dituntut memahami produk atau teknologi.
Ia juga harus mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan manusia dan kebutuhan bisnis.
Soft Skill Juga Bisa Membawa Karier Naik Kelas
Salah satu hal yang ditekankan Arjuna dalam wawancaranya adalah pentingnya:
empati, emotional intelligence, kemampuan membangun hubungan, komunikasi, dan kolaborasi.
Ini menjadi pelajaran yang sangat penting.
Ketika berbicara tentang pelatihan kerja, kita sering kali langsung memikirkan keterampilan teknis.
Belajar digital marketing.
Belajar coding.
Belajar desain.
Belajar AI.
Belajar analisis data.
Padahal, dunia kerja membutuhkan kombinasi antara hard skill dan soft skill.
Seseorang mungkin sangat ahli secara teknis.
Tetapi jika tidak mampu menjelaskan ide kepada klien, bekerja sama dengan tim, memahami kebutuhan orang lain, atau menyelesaikan konflik, kompetensinya belum tentu memberikan dampak maksimal.
Karena itu, pengembangan karier membutuhkan pembelajaran yang lebih menyeluruh.
Pelajaran Menarik dari Dunia Tinju
Ada bagian unik dalam kisah Arjuna.
Selain bekerja di IBM, ia juga memiliki pengalaman dalam olahraga tinju.
Menurut Arjuna, latihan tinju mengajarkan konsep deliberate practice atau latihan yang dilakukan secara berulang dan terarah untuk mencapai penguasaan keterampilan.
Ia kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan perkembangan kariernya.
Sebagai salah satu anggota yang lebih muda dalam tim Customer Success Management, ia berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang dengan pengalaman lebih banyak.
Solusinya?
Terus berlatih.
Terus mengerjakan proyek.
Terus menyerap pengetahuan.
Terus memperbaiki kemampuan.
Hari demi hari.
Menurutnya, pertumbuhan membutuhkan proses dan kesabaran.
Dan prinsip tersebut sebenarnya berlaku dalam hampir semua bidang pekerjaan.
Naik Kelas Tidak Harus Menunggu Kita Siap 100%
Salah satu nasihat Arjuna kepada orang yang ingin memasuki bidang Customer Success Management adalah agar tidak terlalu khawatir jika belum memiliki pengalaman atau pengetahuan yang lengkap.
Menurutnya, merasa kewalahan ketika memasuki bidang baru merupakan hal yang normal.
Yang penting adalah mencari dukungan dari tim dan terus mengembangkan diri.
Ini bukan berarti seseorang boleh mengabaikan kompetensi.
Justru sebaliknya.
Pesannya adalah:
jangan menjadikan kekurangan pengalaman sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
Jika memiliki dasar kemampuan yang relevan, kemauan belajar, dan dukungan yang tepat, seseorang dapat mengembangkan kompetensi untuk menghadapi tanggung jawab baru.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kisah Arjuna memberikan beberapa pelajaran penting.
1. Karier tidak harus berjalan lurus
Arjuna memulai perjalanan profesionalnya di Cyber Security.
Kemudian ia berpindah ke Customer Success Management.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan karier seseorang tidak harus mengikuti satu jalur yang sama sepanjang hidupnya.
2. Pelatihan dapat membantu seseorang menghadapi peran baru
Ketika seseorang berpindah ke bidang baru, kebutuhan pembelajaran biasanya meningkat.
Arjuna mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai sesi pembelajaran dan tech academy untuk memperluas pemahamannya terhadap teknologi yang berkaitan dengan pekerjaannya.
3. Kompetensi lama bisa digunakan dalam pekerjaan baru
Latar belakang Matematika dan Ekonomi tidak menjadi penghalang bagi Arjuna.
Kemampuan logika, analisis, komunikasi, dan menjelaskan konsep kompleks justru menjadi modal yang dapat digunakan dalam peran barunya.
4. Soft skill memiliki nilai besar
Empati, komunikasi, emotional intelligence, kolaborasi, dan kemampuan membangun hubungan merupakan bagian penting dari keberhasilan dalam pekerjaan.
5. Naik kelas membutuhkan latihan berulang
Seperti seorang atlet yang berlatih untuk meningkatkan performa, seorang profesional juga perlu berlatih untuk meningkatkan kompetensi.
Belajar sekali bukan berarti selesai.
Belajar harus menjadi kebiasaan.
Bukan Sekadar Naik Jabatan, tetapi Naik Kompetensi
Kisah Arjuna mengingatkan kita bahwa perkembangan karier tidak selalu dapat diukur dari perubahan jabatan.
Terkadang ukuran yang lebih penting adalah:
Apakah kemampuan kita bertambah?
Apakah tanggung jawab kita berkembang?
Apakah kita mampu menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks?
Apakah kita mampu memberikan nilai yang lebih besar kepada organisasi dan pelanggan?
Jika jawabannya semakin sering "ya", sebenarnya kita sedang mengalami proses naik kelas.
Karier Arjuna memperlihatkan bahwa perpindahan dari Cyber Security ke Customer Success Management membutuhkan lebih dari sekadar keinginan untuk berganti posisi.
Ia membutuhkan kemauan untuk belajar, beradaptasi, membangun keterampilan baru, berkomunikasi, dan memanfaatkan dukungan dari lingkungan kerja.
Saatnya Naik Kelas
Mungkin Anda juga sedang berada di persimpangan karier.
Mungkin Anda ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Mungkin Anda ingin meningkatkan posisi.
Mungkin Anda ingin pindah bidang.
Atau mungkin Anda hanya merasa bahwa keterampilan yang Anda miliki saat ini belum cukup untuk menghadapi tuntutan dunia kerja yang semakin berkembang.
Tidak apa-apa.
Anda tidak harus mengetahui seluruh jawabannya hari ini.
Mulailah dengan belajar.
Karena satu keterampilan baru dapat menjadi awal dari peluang yang baru.
Dan satu langkah kecil hari ini dapat menjadi bagian dari perjalanan karier yang jauh lebih besar di masa depan.
🚀 Siap Naik Kelas?
Yuk, mulai tingkatkan keterampilan Anda dan persiapkan diri untuk peluang karier berikutnya bersama DIGIMA ID.
👉 Yuk, Naik Kelas — Program Pelatihan DIGIMA ID
Learn Today, Lead Tomorrow.
Belajar hari ini, memimpin masa depan.
Sumber Utama
IBM Careers — “Meet Arjuna: A Passionate Boxer Who Landed in Customer Success Management.”
Artikel resmi IBM yang memuat wawancara Arjuna mengenai perjalanan dari graduate scheme sebagai Cyber Security professional menuju Customer Success Management, pengalaman pelatihan, keterampilan yang digunakan, serta dukungan IBM dalam perkembangan kariernya.
IBM Careers — “What Customer Success Managers Do.”
Sumber pendukung yang menjelaskan peran Customer Success Manager di IBM dan pentingnya upskilling, pengembangan keterampilan teknis, komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan dalam perkembangan karier.
Catatan editorial: Kisah ini tidak menyatakan bahwa pelatihan merupakan satu-satunya penyebab perpindahan karier Arjuna. Berdasarkan sumber IBM, perkembangan tersebut melibatkan kombinasi kemampuan pribadi, pengalaman, kemauan belajar, dukungan pemimpin, pelatihan, dan kesempatan untuk menjalankan peran baru. Artikel ini menggunakan kisah tersebut sebagai contoh bagaimana pembelajaran dan pengembangan kompetensi dapat mendukung proses naik kelas dalam karier.

Komentar
Posting Komentar